Kamis, 28 September 2017

Surfing dan Snorkeling Asyik di Pantai Bias Tugel

Pantai Bias Tugel meskipun tersembunyi, tidak kalah eksotis dibanding pantai Sanur atau Kuta. Kebersihan dan ekosistemnya masih sangat terjaga. Tempatnya pun relatif sepi karena belum begitu banyak dikenal.

Menuju Lokasi Pantai Bias Tugel

Akses menuju pantai Bias Tugel memang sedikit sulit. Meskipun hanya ditempuh selama satu setengah jam dari bandara Ngurah Rai, namun rutenya berliku.

Untuk bisa sampai ke pantai Bias Tugel, kamu harus ke Pelabuhan Padang Bai lebih dulu. Kemudian berjalan kaki sejauh 500 meter, siapkan sepatu atau sandal bersol tebal karena jalannya terjal dan berbatu. Kesulitan perjalananmu nantinya akan terbayar oleh indahnya pantai Bias Tugel yang mungil.

Jika kamu beserta rombongan yang cukup banyak, lebih baik sewa mobil saja sejak dari bandara. Di omocars.com kamu bisa memilih mobil yang sesuai dengan selera dan budget-mu.

Keistimewaan Pantai Bias Tugel

Areanya tidak begitu luas dan bisa dijelajahi dalam waktu sebentar. Ada batu karang yang tinggi di sisi kanan dan kiri pantai, seolah menjadi batas alami Bias Tugel dengan pantai sekitarnya.

Kamu yang hobi surfing pasti menyukai tempat ini. Ombaknya yang tinggi akan menguji adrenalinmu.

Kamu juga bisa snorkeling mengintip keindahan bawah laut. Terumbu karang alami dan ikan-ikan terlihat jelas karena kejernihan air lautnya.

Jangan lupa bawa kamera ya, Bias Tugel asyik sekali untuk difoto, apalagi waterblow-nya yang ada di karang sebelah kanan pantai. Tumbukan antara ombak dan karang menyebabkan air tersembur dari dalam batu karang seperti air mancur.

Jaga Kelestarian Pantai

Keistimewaan pantai Bias Tugel lainnya adalah tidak ada tiket masuk alias gratis. Meski begitu “bayarlah” keindahan yang kamu dapatkan dengan cara lain.

Jagalah kebersihan pantai, jangan tinggalkan sampah sedikit pun. Bahkan sepotong kecil plastik bisa melukai ekosistem, memerlukan waktu lama sekali untuk terurai di dasar laut.

Alam, flora, dan fauna yang ada nikmati saja, jangan diganggu. Tak perlu mencoret-coret pohon atau karang. Atau menangkap hewan laut kecil untuk dibawa pulang.

Siapkan Bekalmu

Bagusnya sih kamu membawa bekal sendiri, karena pantai yang sepi ini masih minim fasilitas. Tapi usahakan juga berbagi rejeki dengan beberapa warung yang ada di pantai.

Warung-warung itu menjual makanan dan minuman ringan. Bangunan yang ditempatinya semi permanen beratap daun kelapa kering. Konon saat angin laut sangat kencang, atap itu terbang terbawa angin.

Untuk barang-barang seperti perlengkapan renang dan snorkeling, juga mungkin alas berjemur, kamu memang harus membawanya sendiri. Have fun!

Rabu, 20 September 2017

Pentingkah Asuransi Jiwa Bagi Traveler?

Dewasa ini, banyak orang dengan mudahnya mengaku sebagai traveler. Baru main ke luar kota sedikit, sudah ngaku-ngaku sebagai traveler. Agak berbeda dengan traveler sejati yang benar-benar senang bepergian ke daerah-daerah terpencil, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Traveler sejati bukan hanya sekedar bepergian untuk tamasya, ada motivasi tersendiri, seperti ingin merasakan suasana pedesaan, melihat secara langsung kehidupan di sana, memotret atau menuliskan kisah-kisah perjalanan mereka.


Sumber: themystikmonk.com

Ada rintangan tersendiri di setiap perjalanan mereka. Malah terkadang yang dipikirkan traveler sejati bukanlah, “tempat mana yang paling eksotis untuk dijadikan background selfie” melainkan “tempat mana yang bisa membawa kesan mendalam”.

Tempat yang bisa mereka kenang sampai tua kelak, dan tentunya pemikiran itu tidak didapat dalam sehari-dua hari.

Apalagi, jika akhirnya pilihan mereka jatuh pada tempat-tempat yang ekstrem, misalnya benua antartika. Mereka tentu tahu resiko apa saja akan dihadapi, memprediksi hal-hal buruk yang bisa saja terjadi. Di balik kepuasan yang akan mereka dapatkan, pasti ada kejadian yang tidak terduga. Mereka harus mempersiapkan itu, bahkan yang berhubungan dengan nyawa sekali pun.

Traveler amatiran biasanya tidak berpikir sejauh itu. Mereka cenderung merasa “semakin menantang, semakin bagus pula foto yang dihasilkan”. Tanpa mengerti bahwa mereka bisa saja mengalami cacat karena kecelakaan, meninggal karena terjatuh dari tempat tinggi. Itu semua adalah resiko yang harus kita perhitungkan sebagai seseorang yang mengaku “traveler”.


Sumber: consumerismcommentary.com
Terlebih lagi, kalau kita adalah tulang punggung keluarga. Yang artinya, apabila kita kecelakaan hingga kehilangan nyawa, kita meninggalkan beban kepada keluarga yang ditinggalkan. Untuk itu, mulailah berpikir mencari alternatif dan solusi. Setidak-tidaknya buat diri kita merasa tenang selama bepergian. Yang pada intinya, alternatif tersebut berfungsi untuk mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi tentu saja, kita selalu berharap yang baik-baik selama perjalanan kan?

Ibarat sedia payung sebelum hujan. Tidak ada salahnya melakukan pencegahan sedini mungkin.

Pencegahan yang dimaksud di sini adalah asuransi jiwa. Asuransi jiwa memang tidak bisa mengembalikan nyawa kita ketika kecelakaan dan meninggal dunia. Karena asuransi jiwa bukanlah Tuhan. Tapi dengan membeli asuransi jiwa, kita bisa mencegah adanya beban berat yang harus ditanggung oleh keluarga.

Asuransi jiwa memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan hidup berkecukupan, sebagaimana kehidupan mereka ketika kita masih hidup. Bisa dibilang, asuransi jiwa semacam "warisan" untuk keluarga ketika kita meninggal. Yang manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh keluarga, melainkan untuk diri kita ketika sudah meninggal, misalnya biaya mengurus jenazah, sampai biaya makam (yang bukan rahasia lagi, kalau dari tahun ke tahun harganya semakin mahal).

Bahkan apabila kita meninggal dalam keadaan memiliki utang, asuransi jiwa bisa membantu membayarkan utang tersebut.
***
Memang agak sama dengan asuransi perjalanan. Ketika kita menaiki suatu kendaraan umum seperti pesawat, dalam tiket pesawat itu tentu sudah disertai asuransi keselamatan atas diri kita, kehilangan barang bagasi, dan semacamnya. Namun, perbedaan mendasar antara asuransi jiwa dan asuransi perjalanan terletak pada "kapan asuransi tersebut bisa digunakan?", dan asuransi jiwa tidak terbatas pada waktu kita melakukan perjalanan. Di saat kita berdiam diri di rumah pun, lalu tiba-tiba bencana yang tidak terduga yang membuat kita meninggal, maka keluarga kita akan mendapat santunan asuransi jiwa kita.


Sumber: pybahrain.com

Jadi, bukankah sudah waktunya seorang traveler mulai berpikir, "Apakah saya butuh asuransi jiwa? Pentingkah saya membelinya?"

Because today, life insurance is an item we must have.

Rabu, 26 Juli 2017

Pengalaman Mendapat Driver Tunarungu

Sebenarnya kejadian ini sudah agak lama terjadi, tapi bagi saya, ceritanya tidak akan pernah basi. Apalagi, bagi kalian yang suka jalan dengan kendaraan umum. Walaupun cerita kali ini tidak bisa dibilang travelling juga sih, karena ...

Berawal dari beberapa bulan lalu, ketika di kantor sedang masa-masa pra-audit eksternal. Saya dan teman-teman kantor terpaksa pulang lebih malam daripada biasanya. Kurang lebih jam 10 malam, salah satu teman yang bernama Bu Vi-El, meminta tolong untuk dipesankan ojek online dari ponsel saya karena dia tidak punya aplikasi Uber. Dia mau pulang ke rumahnya walaupun sudah hampir tengah malam, sedangkan saya memutuskan untuk menginap di kost teman yang berada dekat kantor, karena jarak kantor dan rumah saya lumayan jauh.

Hal yang paling mengejutkan, ketika kami akhirnya mendapat driver untuk Bu Vi-El, di layar ponsel muncul pop up. Isinya memberitahukan kalau Bu Vi-El mendapat driver yang tunarungu. Bu Vi-El tidak perlu takut untuk melanjutkan perjalanan karena pihak Uber akan memandu sang driver melalui aplikasi. Tapi dengan cepat Bu Vi-El menyuruh saya untuk meng-cancel driver tersebut, dengan alasan keamanan yang kurang terjamin. Saya bisa apa? Driver ini untuk Bu Vi-El kan?



sumber gambar: internet
Tapi saya tertohok, sangat sangat tertohok. Menuliskan kembali cerita ini pun, perasaan tertohok itu muncul lagi. Rasa sakit yang mungkin tidak kalian rasakan, termasuk Bu Vi-El. Saya menangis saat itu juga setelah jari saya memencet tombol cancel. Saya seperti menolak diri saya sendiri. Walapun saya tidak tunarungu, tapi saya punya penyakit yang sejenis. THT yang bikin pendengaran saya berkurang, dan bukankah itu sama saja dengan tunarungu? Hanya intensitasnya yang berbeda.

Baca juga: Perkenalan yang (Mungkin) Terlambat

Menekan tombol cancel, membuat saya seperti orang jahat yang tidak memberi driver itu kesempatan. Sedangkan saya kerap mengeluh agar diberi kesempatan untuk menjadi orang normal, dunia yang normal, walaupun itu mustahil, karena telinga saya saja sudah tidak normal. Saya seperti menolak, menjahati, dan mengkhianati diri sendiri. Bersikap tidak adil kepada driver itu, sedangkan Saya? Saya meminta kesempatan dari orang lain, tapi saya malah menolak memberi kesempatan kepada si driver.
******
Selang beberapa minggu, Saya memesan aplikasi Uber untuk pulang ke rumah. Semua terlihat normal walaupun ketika saya mencoba memberi arahan via telepon, telepon saya tidak diangkat dan si driver mengirim sms, “Mbak, diarahkan lewat sms saja ya.”

Tidak ada rasa curiga saat itu, sampai si driver datang, lalu ada sebuah kertas yang dikalungkan di lehernya.

“Ojek Uber. Imam. 08xxxxxxxxxx”

Saya masih tidak berpikir kalau dia seorang tunarungu. Hanya mengira, bahwa bapak itu gagu atau minimal gagap bicara. Tapi no problem. Sekali lagi, saya berusaha memberi kesempatan kepada orang-orang yang memiliki kekurangan, terutama secara fisik. Karena biasanya, orang lain suka memandang sebelah mata dan itu sangat menyakitkan hati. Bahkan saat itu saya membawa barang yang cukup besar dan dia agak kerepotan. Tapi, dia sama sekali tidak mengeluh, bahkan berusaha bilang dengan gerakan tangan, “Bisa kok ini, tapi pelan-pelan saja ya,” intinya biar barang yang saya bawa tidak jatuh. Dia juga minta tolong diarahin jalannya karena takut maps di aplikasi tidak sesuai dengan jalan yang biasa saya lewati.

Selama di perjalanan, saya terus berpikir, mungkinkah Pak Imam ini tunarungu? Tapi kenapa tidak muncul pop up pemberitahuan dari ojek Uber? Tapi, apa orang yang gagap bicara sudah pasti tidak bisa mendengar? Di sepanjang jalan itu pula, saya beberapa kali ngasih arah jalan dengan gerakan tangan entah itu belok ke kanan, kiri, atau lurus, hingga akhirnya sampai di rumah. Saya masih tidak berani untuk bertanya, “Apakah bapak tunarungu?”

Well, beberapa bulan kemudian, saya mendapat whatsapp dari nomor tidak dikenal. Isinya bukan teror sih, tapi lebih ke informasi kalau ada pembagian laptop gratis dari kementerian apa gitu, saya lupa. Karena ngeri hoax, saya pun bertanya dan orang itu jawab, “Saya Imam tunarungu yang kerja uber pernah antar mbak.”


Screenshoot percakapan
Saya menangis lagi.

Jujur, sakit hati yang pernah saya rasakan ketika meng-cancel driver Bu Vi-El seolah terbayarkan. Saya merasa lega, senang, terharu, sekaligus merasa kuat, karena berhasil membuktikan kalau kita memang tidak boleh memandang orang sebelah mata. Dia mungkin memiliki kekurangan yang terlihat jelas, tapi bukan berarti dia berhak untuk tidak diberi kesempatan. Alasan keselamatan itu memang penting. Seorang tunarungu yang tidak bisa mendengar mungkin bisa membahayakan penumpang, maybe kalau ada klakson dari pengendara lain, si driver tidak bisa mendengar. Tapi, bukankah mereka masih punya mata untuk melihat ke arah spion?

Ini bukan soal tunarungu saja, dan juga bukan tentang pengendara ojek saja. Apa pun kendaraannya, bagaimana pun keadaannya, cobalah berpikir lebih mendalam lagi. Apabila ada satu kekurangan yang bisa membuatmu merasa tidak aman, coba pikirkan dan lihat kelebihan mereka yang bisa menutupi dan meyakinkanmu kalau mereka tidak sebodoh itu untuk mencelakakan penumpangnya. Apalagi, ketika aplikasi Uber sudah mendukung para tunanetra itu, memandu mereka lewat aplikasi, bukankah artinya ojek Uber sudah mencoba memberi kesempatan dan peluang bagi mereka untuk bekerja? Daripada menjadi pengamen, pengemis, dan sejenis? Lalu, mengapa malah kita yang membatasi rezeki mereka?

Terakhir, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan apalagi menyudutkan Bu Vi-El, karena saat itu pun saya juga bersalah. Kesadaran saya masih terbatas untuk memberitahu Bu Vi-El soal konsep kesempatan. Tapi, sekarang saya merasa sangat bersyukur. Melalui Pak Imam, saya bisa menebus rasa bersalah kepada driver pertama yang saya cancel. Saya juga berharap, kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik ketika mengalami posisi tersebut, walaupun kalian tidak mempunyai kekurangan yang sama seperti yang saya dan driver-driver itu alami. 😊

Kamis, 20 Juli 2017

Perkenalan yang (Mungkin) Terlambat

Halo, Nila di sini.

Setelah menulis beberapa pengalaman traveling di blog ini, tiba-tiba saya berpikir ... rasanya tidak sopan kalau tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Walaupun tidak ada ketentuan khusus apalagi keharusan, karena bagaimana pun, blog ini adalah milik pribadi. Tulisan dan foto-foto juga milik pribadi, jadi seluruh hak cipta tulisan dan foto ada kepada saya. Jadi, dengan tegas:


"Mohon tidak memplagiat/ menyalin-pindahkan foto maupun tulisan di blog ini tanpa menuliskan sumber blog www.nilanela.com"

Karena saya pun, ketika mengambil beberapa foto dari internet untuk ilustrasi, pasti akan ditulis sumbernya. Mohon dipatuhi ya!

Bay the way, selain menulis, saya memang lumayan suka memotret. Kesukaan itu lahir sejak duduk di bangku kuliah yang saat itu saya mengambil jurusan jurnalistik. Ngerti dong kenapa sekarang jadi hobby motret? Soalnya fotografi masuk ke dalam salah satu mata kuliah yang saya pelajari. Berkat fotografi dan jurusan saya jugalah, saya mulai menemukan kecintaan akan jalan-jalan.

Hm, sebenarnya saya sudah suka jalan dari SMA. Tapi, apalah daya anak remaja perempuan yang masih tinggal sama orang tua? Di dalam keluarga, saya termasuk anak yang petakilan, ceroboh, agak nyeleneh, dan susah diatur. Makanya, orang tua agak susah kasih kepercayaan kalau saya mau pergi atau main jauh. Yaa... Alhamdulillah, perlahan-lahan saya bisa keluar dari lingkarang "negatif thinking" keluarga hahahaha >_< *anak durhaka.

Oh, ya. Tulisan kali ini tidak hanya sekadar perkenalan biasa kok. Di sini, saya sekaligus ingin berbagi rahasia. Semacam "kata pengantar" sebelum kalian para pembaca yang baik hati memutuskan untuk membaca pengalaman-pengalaman saya yang lainnya.

Pertama, seperti yang saya bilang tadi. Saya tumbuh di keluarga yang agak posesif sama anak perempuan mereka. Jadi, untuk meyakinkan mereka kalau saya tipekal orang yang tidak macam-macam, saya memutuskan untuk berjilbab. Lebih ekstrem lagi, saya mengikuti bela diri silat selama di kampus. Insyaallah aman :)

Kedua, saya sangat hobby berenang. Tapi hobby itu sempat terkubur karena saya memiliki penyakit THT, yang mengharuskan saya memakai alat telinga. Sulit rasanya menerima kenyataan waktu itu. Saya memang ingin sembuh dari penyakit saya, karena saya kerap tidak bisa mendengar apa yang orang lain katakan secara bisik-bisik. Tapi, ketika perlahan Allah mengabulkan doa saya, harus ada yang dikorbankan. Hm, sudah berapa tahun ya saya tidak menyentuh kolam berenang?

Ketiga, alasan saya menulis di blog ini adalah bukan untuk pamer. Saya sangat senang untuk kalian yang bersedia membaca, apalagi menjadikan tulisan di sini sebagai referensi. Tapi saya lebih berterima kasih lagi, apabila teman-teman mau memahami bahwa kenyataannya saya agak bermasalah juga dengan ingatan. Kadang saya mudah melupakan kejadian-kejadian yang baru beberapa hari terjadi. Kadang ada yang ingat, kadang lupa (seringnya sih lupa). Jadi, saya memilih untuk menuliskan di sini. (Karena kalau nulis di sticky notes berasa nulis deadline naskah T_T). Agar someday ketika saya lupa, depresi, atau sedang mengeluhkan kehidupan yang sulit, menyebalkan, atau kurang bersyukur, saya senantiasa ingat bahwa saya pernah menjalani hari-hari yang menyenangkan seperti yang saya tulis di blog ini.

Eittsss... Ada yang melow nih? Jangan dong ya :) Selalu semangat! Seperti kata pepatah (yang entah dari mana):

KEEP CALM, STAY COOL, AND ENJOY!

*****
Untuk kerjasama event, konten artikel, dsb, silakan hubungi:
Email      : nelafayza388@gmail.com

Media Sosial
Facebook : Nela Fayza
Instagram: @nelafayza
                @nilafphotograhpy
Twitter    : @nelafyz

Sabtu, 13 Februari 2016

Pulau Onrust, Saksi Bisu Sejarah Belanda

NOTE: Bagian ini merupakan rangkaian kisah perjalanan #SatuHariJelajahiPulauSeribu. Cerita sebelumnya tentang perjalanan saya menuju dermaga Pantai Marina dan bersiap-siap meluncur ke lokasi pertama, Pulau Onrust.
* * *

Membutuhkan waktu sekitar 23 menit untuk kapal kami menepi di lokasi pertama. Sebelumnya saya sempat kecewa dengan Pulau Onrust, why? Mau saya kasih unjuk rahasia pers dalam mem-framing berita nggak? Kalau mau, coba lihat foto pertama di bawah ini :

Foto dermaga Pulau Onrust dari jarak dekat
©2015 Nila Fauziyah
Gimana? Kelihatannya nggak ada yang aneh kan?

Tapi coba lihat foto selanjutnya:

Foto dermaga Pulau Onrust dari jarak jauh
©2015 Nila Fauziyah
Ini lho yang kerap dilakukan oleh media-media massa. Sekadar penjelasan saja, mem-framing itu istilah yang artinya membingkai suatu peristiwa atau kejadian sesuai dengan keinginan si media. Pasti kita sering menemukan berita atau foto-foto yang "wah" atau terkesan membela satu pihak, tanpa kita sadari bahwa berita atau foto itu hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan yang ada. Media massa hanya ingin menunjukkan apa yang ingin mereka tunjukkan meski terkadang kenyataannya tidak seperti itu.

Simpelnya, seperti yang saya lakukan di atas. Ketika saya memotret foto pertama, saya berharap kalian akan menilai "ini lho gerbangnya Pulau Onrust. Ada plang, ada perahu." setidak-tidaknya seperti itu. Tapi apakah kalian akan tahu kalau sebenarnya dermaga Pulau Onrust sangat kotor, seandainya kalian tidak melihat foto kedua? Jawabannya pasti tidak. Karena saya tidak menginginkan kalian tahu betapa kotor laut di dermaga Pulau Onrust pada foto pertama.

Air lautnya sampai kehitaman saking banyak sampah. Yang bikin heran, itu sampah-sampah datangnya darimana? Setahu saya, Pulau Onrust bukan pulau yang dihuni oleh warga.

Mau nyalahin wisatawan, tapi nggak punya bukti (meskipun ada kemungkinan), jadi please laut itu bukan tempat sampah! Atau menyalahkan pemerintah provinsi? Hm, saya nggak tahu-menahu nih sudah sebesar apa usaha pemerintah dalam membenahi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, karena saya pun baru pertama kali ke sini.

Jujur, saya memang sempat kecewa karena ternyata nggak semua pulau di Kepulauan Seribu itu "wah" seperti kata orang. Padahal Pulau Onrust itu ibarat Kota Tua-nya Kepulauan Seribu. Ada sejarah dan daya tariknya sendiri. Kasihan pengunjungnya ... Kalau mereka ikut tour dari travel ya nggak masalah sih karena tour guide-nya pasti dari awal sudah kasih informasi tentang pulau ini. Tapi kalau pengunjung tanpa travel gimana? Saya yakin, mikir dua kali buat mampir ke Pulau Onrust. Dari dermaganya saja lautnya kotor, tidak berpenghuni, mau ngapain?

Padahal kalau mau dieksplorasi, Pulau Onrust memiliki sejarah dan keunikannya sendiri. Ngomong-ngomong, sebelumnya saya mau tekanin, foto-foto yang saya ambil ini adalah foto setahun lalu. Saya berharap Pulau Onrust yang sekarang sudah mendapat perhatian dari pihak pemerintah *salam damai.

Rasanya nggak adil kalau kita hanya menilai Pulau Onrust dari dermaganya saja. Karena seperti pepatah bilang "Don't judge a book by cover", and ternyata daratan di Pulau Onrust itu bersih banget. Nggak ada sampah yang berserakkan, daun-daun yang gugur pun rata-rata bersih disapu oleh pengurus atau penjaga pulau.

Jalan setapak di depan museum
©2015 Nila Fauziyah
Saya memang tidak sempat mengelilingi keseluruhan Pulau Onrust karena seperti yang saya jelaskan di cerita sebelumnya, saya, Fara, dan keluarga Kak Nabila harus kejar waktu untuk mengunjungi pulau-pulau lain. Tapi kami sempat masuk ke museum arkeologi, satu-satunya bangunan yang masih utuh yang ada di Pulau Onrust.

Bangunan yang didominasi cat dinding berwarna putih ini, menyimpan benda-benda peninggalan zaman Belanda dan benda-benda yang memiliki nilai sejarah bagi Pulau Onrust.

Salah satu ruangan di museum
©2015 Nila Fauziyah

Miniatur denah Pulau Onrust di dalam museum
©2015 Nila Fauziyah
Berjalan-jalan di Pulau Onrust membuat saya merasa sedang syuting film horor hihihi ... canda deh. Suasana di sana memang terbilang sepi. Hal yang wajar karena pulau ini tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa penjaga dan pengurus pulau yang sebelumnya sempat menyambut dan menemani kami berkeliling.

Pulau Onrust
©2015 Nila Fauziyah

Pulau Onrust dijadikan cagar budaya dan menjadi "Kota Tua-nya" Kepulauan Seribu karena memiliki sejarah panjang. Bisa dibilang lumayan mengerikan juga. Pulau Onrust ini dulunya, sekitar tahun 1911, pernah menjadi tempat singgah bagi para jamaah haji yang baru saja pulang dari Mekkah. Belanda beralasan bahwa mereka perlu dikarantina kalau-kalau ada yang mengalami sakit atau membawa penyakit menular.

Tapi beberapa sumber mengatakan kalau itu semua hanya akal-akalan Belanda demi mencegah munculnya jamaah dengan "pemikiran baru". Memang pada saat itu, banyak dari jamaah yang pergi ke Arab bukan hanya bertujuan untuk beribadah haji ke Mekkah, melainkan juga berguru kepada ulama-ulama yang berada di Arab. Hal itu dikhawatirkan akan membawa dampak buruk bagi jamaah hingga akhirnya memiliki "kesadaran baru" lalu melakukan pemberontakan. Itu sebabnya, setiap kali Belanda menemukan jamaah semacam itu, mereka akan langsung menyuntik mati para jamaah.

Sisa bangunan dari zaman Belanda
©2015 Nila Fauziyah

Drama Kecil dan Rintik Hujan

Parah!!

Iya parah banget, karena saya baru bisa ngelanjutin tulisan tentang kepulauan seribu sekarang. Padahal traveling-nya setahun yang lalu, 15 Februari 2015 hehehe ... Minta ditimpuk banget ya.

Lanjut ah! Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya dapat ajakan traveling gratis bareng keluarga Kak Nabila. Jadilah saya, Fara, dan keluarga Kak Nabila berangkat usai shalat shubuh dari kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan menuju Pantai Marina Ancol. Jangan tanya berapa jam perjalanan dari Lenteng menuju Pantai Marina, karena saya bakal jawab nggak tahu. Pertama, Jakarta nggak pernah nggak macet; kedua, kalau kamu bergolongan darah AB pasti ngerti alasannya (kami mengidap penyakit cepat ngantuk hihihi ...)

Memasuki kawasan Ancol, mobil yang kami naiki langsung mencari tempat parkir. Lokasinya tepat di depan dermaga. Kami memang berencana menaiki speedboat. Walaupun sebenarnya ada alternatif lain, karena penyewaan speedboat cukup mahal. Klik link berikut untuk referensi harga sewa speedboat. Alternatif lain yang lebih murah yaitu naik kapal motor yang titik keberangkatannya di Pelabuhan Muara Angke (Kali Adem).

Ngomong-ngomong, speedboat yang kami naiki kisaran Rp 5 juta untuk satu hari perjalanan. Adapun lokasi yang akan kami jelajahi yaitu Pulau Onrust, Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pulau Tidung, dan Pulau Harapan.

Keluar dari mobil, kondisi langit mulai tidak bersahabat. Sempat khawatir sebenarnya, karena pengalaman saya naik kapal cepat pasca hujan besar, ombaknya ampun-ampunan. Tapi untungnya hanya gerimis kecil, jadi perjalanan kami pun tetap dilakukan.



Langit yang mendung
©2015 Nila Fauziyah
Melihat jejeran speedboat yang masih terikat di kayu membuat saya senang bukan main. Kapan-kapan saya ceritakan soal ini.


Dermaga Pantai Marina
©2015 Nila Fauziyah

Intinya saat naik ke salah satu speedboat, sempat ada drama. ^_^

Drama kecil yang lumayan seru
©2015 Nila Fauziyah

Speedboat yang kami tumpangi nggak sesuai dengan perjanjian. Nahkoda yang bakal mengemudikan speedboat-nya juga belum muncul dan saat itu sudah pukul 07.15 WIB. Padahal kami mesti ngebut jelajahi lima pulau dalam satu hari. Akhirnya setelah diskusi panjang lebar (kayaknya sih cuma salah paham) kami pindah speedboat dan langsung cusss ... terbang!

Lho, kok terbang? Bahaya banget buat ibu hamil dan orang yang punya penyakit jantung, saya saranin naik kapal besar yang biasa saja. Selain harga jauh lebih murah, kecepatannya juga stabil. Mungkin pengaruh cuaca juga kali ya, sampai-sampai nyali saya agak ciut. Benar-benar menantang adrenalin. Terpaan angin yang bikin jilbab saya mencang-mencong, goncangan speedboat yang kuat banget. Saking cepatnya, setiap kali menabrak ombak, kapal bakal terasa terbang, selanjutnya jedug! Saya sudah nggak bisa bilang apa-apa lagi saat kabin kapal bertumbuk dengan laut. Begitu saja terus selama perjalanan. Mulai dari ketawa-ketawa norak sampai ada yang mual karena masuk angin, halah ... Masuk ke room pun bukannya tambah enak malah enek, karena di dalam room justru semakin berasa tumbukan antara bawah kabin dengan laut.


Melihat ke arah langit Jakarta
©2015 Nila Fauziyah

==================================================

Sekadar referensi bagi yang ingin naik Kapal Motor dari PELABUHAN MUARA ANGKE:

1) Kapal Motor (KM) Lumba-Lumba:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari
2) Kapal Motor (KM) Kerap:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Lancang – Pulau Payung – Pulau Tidung
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa
Marunda – Muara Baru
3) Kapal Motor (KM) Catamaran 1:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa
4) Kapal Motor (KM) Catamaran 2 & Catamaran 3:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Lancang – Pulau Pari – Pulau Payung – Pulau Tidung
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa
5) Kapal Motor (KM) Catamaran 3:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa – Pulau Sebira

Untuk biaya perjalanan:
a) Pulau Untung Jawa/ Pulau Pari/ Pulau Lancang: Rp 42 ribu
b) Pulau Payung / Pulau Tidung / Pulau Pramuka / Pulau Kelapa : Rp 52 ribu
c) Pulau Sebira : Rp 72 ribu

Sedangkan jadwal keberangkatan bisa berubah-ubah tergantung kondisi dan cuaca. Tapi umumnya seperti ini:
a) Dari Pelabuhan Muara Angke: Setiap hari pukul 09.00 WIB dan 11.00 WIB.
b) Dari pulau ke pelabuhan: Setiap hari pukul 13.00 WIB dan 14.00 WIB.

Lama perjalanan sekitar 1-3,5 jam.
Oh iya, pembelian tiket kapal tidak bisa diwakilkan. Jadi harus beli sendiri.

Juga beberapa peraturan yang harus dipatuhi:
1) Setiap orang hanya bisa membawa barang yang berat maksimal 10 kg.
2) Ukuran barang maksimal 50 cm x 50 cm x 50 cm (panjang x lebar x tinggi). Lebih dari batas maksimal, kalian pasti disuruh sewa speedboat, haiss ...
3) Dilarang membawa hewan peliharaan
4) Dilarang membawa senjata api
5) Dilarang merokok dalam kapal
6) Untuk lebih jelas lagi, kalian bisa langsung tanya ke petugas yang ada di pelabuhan ya.


Next Part 3

Selasa, 19 Januari 2016

Kafe Depok Rasa Italia (Milan Pizzeria Cafe)

Awalnya saya nggak terlalu antusias saat teman ngajak ke tempat ini, why? Cuma makan pizza kan? Lagipula saya dan ketiga teman saya itu sudah beberapa kali makan pizza di restoran sebelah. Tapi kali ini saya nurut saja deh, demi sebuah persahabatan hehe ...

Milan Pizzeria Cafe adalah tempat makan bergaya Eropa yang terletak Jl. Margonda Raya No. 514 Depok, Indonesia. Lokasinya strategis kok, berada di pinggir jalan. Jadi nggak susah cari Milan Pizza. Patokannya dekat gerbang utama Kota Depok, sebelah kiri jalan kalau dari arah Lenteng Agung atau Kelapa Dua (sebelum melewati kober atau stasiun UI). 

Pertama kali masuk ke dalam, pelayannya lumayan ramah. Kita ditanya, "Untuk berapa orang?" pertanyaan khas lah, lalu sempat disuruh menunggu karena tempat duduk di lantai 1, baik yang indoor maupun outdoor sudah penuh.

Ngomong-ngomong, ada yang unik dari tempat duduk di outdoor. Bentuknya seperti ayunan, walaupun nggak semuanya. Lumayan bikin pengunjung tertarik untuk datang ke sini. Malah kalau saya perhatikan, mulai banyak kafe dan restoran yang menggunakan konsep seperti ini. Mungkin sedang tren. Tapi sayangnya, ya itu ... outdoor keburu penuh. Jadi saya nggak kebagian duduk di sana, padahal kalau boleh curhat, saya suka ayunan. Sedih ...

Bangku berwujud ayunan
(sumber: http://necalvien.blogspot.co.id)

Berada di antara banyaknya tempat makan di kawasan Margonda, sepertinya Milan Pizza nggak kalah gaul. Bila dibandingkan dengan restoran sebelah, ya memang sih Milan Pizza masih baru banget. Dari segi ruangannya juga beda banget. Di sini, ruangan diatur bergaya vintage, kursinya berbahan kayu jati. Suasananya mengingatkan saya pada bar di film koboi.

Pada akhirnya kami dapat di lantai dua. Konsep ruangannya agak beda dibanding lantai 1. Antara meja satu dengan yang lain lebih privat, karena dihalang tembok berbentuk box gitu. Ngerti nggak? Pokoknya seperti kotak segi empat tanpa tutup, terus direbahin ke samping. Nah, mejanya ada di dalam kotak itu. Selain itu, lampunya juga lebih redup dibanding lantai 1. Saya membayangkan dua hal, terutama kalau ke Milan Pizza malam hari, karena kafe ini bukanya sampai pukul 24.00 WIB. Pertama, serem; kedua, romantis. Terserah pilih yang mana deh. Juga, AC di lantai 2 nggak sedingin di lantai 1. Itu lantai 2 indoor, sedangkan lantai 2 outdoor semacam balkon rumah. Space sebelah kanan lebih enak, karena lebih sejuk terkena angin dan suasana di pinggir jalannya dapat banget.

Fasilitas di sini lumayan lengkap, ada tempat nge-charge, ada wifi, dan paling penting mushola. Sebagai seorang muslim, tentu saja tidak boleh meninggalkan shalat kan? Juga, bisa delivery order.

Urusan perut memang susah ditunda. Saya dan ketiga teman akhirnya memutuskan untuk beli dua pizza rasa Beef classic dan Meat Max ukuran regular.

Pizza Meat Max


Semua pizza di sini ada tiga ukuran, yaitu personal, regular, large. Intinya, beda ukuran, beda harga. Pizza ukuran personal sekitar Rp 25 ribuan, untuk regular Rp 50 ribuan, dan large Rp 80 ribuan.

FYI, Milan Pizza menang di harga, terutama pizza. Khusus hari senin - kamis (kecuali hari libur nasional), jam 11.00 - 17. 00 WIB (only pizza) ada potongan harga 50% (dalam rangka promosi). Diskon juga hanya berlaku untuk makan di tempat.

Oh ya, variasi pizza di sini nggak terlalu banyak. Selain pizza, ada menu pasta, lasagna, potato wedges, salad, beef, smoked sausage, dan lain-lain. Minuman sendiri variasinya masih standar kafe pada umumnya, misalnya ice lemon tea, fresh lemon tea, sampai menu kopi. Terakhir, soal rasa ... standar sih menurut saya.

Overall, Milan Pizza bolehlah buat mahasiswa dan anak sekolah yang duitnya pas-pasan, peace! Cocok untuk tempat ngumpul yang asik di area Margonda.

 

Alamat   : Jl. Margonda Raya No. 514, Depok, Indonesia
Open     : Minggu - Rabu (10.00 - 23.00 WIB)
               Kamis-Sabtu (10.00 - 24.00 WIB)
Delivery : (021) 7888 3789
Medsos : Twitter: @milan_pizza
               Instagram: MILANPIZZA
               FB: Milan Pizza
 

Wartavel Jakarta Template by Ipietoon Cute Blog Design